Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Amerika Serikat & Uni Soviet


Setelah berakhirnya Perang Dingin, dunia sedang mengalami ketidakpastian meskipun perang ideologis sudah berakhir. Persenjataan selalu meningkat tiada henti. Dunia terjebak di tengah perlombaan senjata sengit yang meluas dalam semua arah.





Titik balik terjadi di era 50-an ketika setelah diskusi bertahun-tahun mengenai pengurangan senjata dan pelucutan senjata nuklir. Amerika Serikat merasa keberatan pada semua posisi substantive sebelumnya mengenai pelucutan senjata karena kemajuan persenjataan modern sangat signifikan sehingga banyak diskusi mengenai masalah inspeksi.





Pergerseran ide umum pelucutan senjata menuju konsep kontrol senjata yang terbatas mengikuti pengembangan bom hydrogen Amerika Serikat dan Uni Soviet dan bertetapan dengan uji coba pertama rudal balistik antarbenua. Lantas, peristiwa-peristiwa tersebut menakuti para pemimpin yang bertanggung jawab agar melaksanakan perlucutan senjata komprehensif.





Kemajuan teknologi membuka kemungkinan bagi kekuatan-kekuatan nuklir untuk memindahkan uji coba dari atmosfer ke bawah tanah. Sebenarnya, Presiden AS, Kenny, secara tegas memastikan pada Kepala Staff Gabungan dan para pemimpin Senat sebelum Partial Test Ban Treaty (PTBT) tahun 1963 bahwa,





Comprehensive, aggressive, and continuing behavior of underground testing programs designed to increase knowledge and improvisation of our weapons in all significant areas for future military posture.”





– Nyatanya, uji coba senjata nuklir yang dilakukan beberapa tahun setelah penandatanganan PTBT menjadi lebih intens dibandingkan dengan sebelumnya.





Washington dan Moskow mengembangkan kepentingan bersama dalam menjaga hegemoni mereka. Dalam normalisasi hubungan mereka, isu China memiliki peran penting. Di satu sisi, Moskow menjadi sangat prihatin dalam hubungannya di masa depan dengan China dan sisi lain Amerika Serikat, tepat pada awal Perang Vietnam, dihantui oleh bayangan komunis China di seluruh benua Asia.





Litbang Militer





Pada 30 Juli 1963, Pemerintah RRC mengecam PTBT sebagai upaya oleh Uni Soviet, Inggris, dan AS untuk memperkuat monopoli nuklir. PTBT dilanjutkan dengan Perjanjian Nonproliferasi Senjata Nuklir (NPT) yang mengeluti negara-negara tanpa senjata nuklir.





Dalam NPT, negara non-senjata nuklir diminta untuk membatalkan pilihan memperoleh senjata nuklir, sementara kekuatan-kekuatan nuklir berkomitmen untuk mengejar negoisasi dengan itikad baik pada langkah-langkah efektif terkait penghentian perlombaan senjata nuklir dan pelucutan senjata nuklir.





Setelah penandatanganan NPT, perundingan kontrol senjata berubah  menjadi urusan bilateral AS-Soviet dalam kerangka Strategic Arms Limitation Talks (SALT). Dengan demikian, usaha-usaha kontrol senjata saat ini mengabaikan evolusi global yang tidak menyenangkan.





Pada saat yang sama, waktu jangka panjang cenderung mengganggu dengan upaya perencanaan dalam kontrol senjata. Perundingan mengacu pada sistem senjata yang ada, senjata yang baru diproduksi oleh litbang militer yang cenderung usang. Kesepakatan yang dicapai sehubungan dengan senjata lama dibuat hampir tidak berharga dengan munculnya teknologi baru.





Keusangan tersebut membuat litbang militer bangkit di zaman modern yang telah menambah dimensi baru pada dinamika persenjataan dan tidak ada upaya serius untuk menghentikan perlombaan senjata yang dapat mengabaikan keadaan dunia ini.


Posting Komentar untuk "Amerika Serikat & Uni Soviet"

Berlangganan via Email