Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Maksud dari Pancasila Sebagai Sumber Nilai


Bagi bangsa Indonesia, Pancasila dijadikan sebagai sumber nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Artinya bahwa seluruh tatanan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara menggunakan Pancasila sebagai dasar moral atau norma dan tolok ukur tentang baik buruk dan benar salahnya sikap, perbuatan dan tingkah laku bangsa Indonesia.

Selain sebagai dasar falsafah negara dan ideologi negara Pancasila juga sebagai sumber nilai dan Paradigma Pembangunan. Pancasila dipergunakan sebagai dasar untuk mengatur pemerintahan dan mengatur penyelenggaraan Indonesia.

Pengertian Pancasila

Pancasila ialah acuan utama bagi pembentukan suatu hukum nasional, kegiatan penyelenggaraan negara, partisipasi warga negara serta pergaulan antar warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan arti lain, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila harus menjiwai seluruh kegiatan berbangsa serta bernegara.

Pancasila telah menjadi istilah resmi sebagai dasar falsafah negara Republik Indonesia, baik ditinjau dari sudut bahasa maupun dari sudut sejarah.

Secara Etimologis, Pancasila berasal dari bahasa India, yakni bahasa Sansekerta. Menurut Muhammad Yamin, Pancasila memiliki dua macam arti, yaitu Panca artinya lima, syila dengan (i) biasa (pendek) artinya sendi, alas, atau dasar, syila dengan (i) panjang artinya peraturan tingkah laku yang penting, baku, baik, dan senonoh. Kata sila dalam bahasa Indonesia sendiri menjadi susila artinya tingkah laku baik.

Sedangkan secara Terminologi pada 1 Juni 1945, saat sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) kata Pancasila (lima asas dasar) digunakan oleh Presiden Soekarno untuk memberi nama pada lima prinsip dasar Indonesia yang diusulkannya. Perkataan tersebut dibisikkan oleh Muhammad Yamin, yang mana ia seorang seorang ahli bahasa, yang duduk di samping Soekarno kala itu.

Rumusan Pancasila yang Sah

Rumusan Pancasila yang sah dan sistematika terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 yang disahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945. Presiden RI mengeluarkan Instruksi No.12/1968 pada 13 April 1968. Dalam instruksi tersebut ditegaskan bahwa tata urutan (sistematika) dan rumusan Pancasila sebagai berikut:

  1. Ketuhanan yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Pengertian Nilai

Nilai atau dalam bahasa inggirs Value sering dikaitkan dengan kebaikan atau kebenaran. Sesuatu dikatakan memiliki nilai jika sesuatu tersebut berguna, benar, indah, baik, relegius dan lain sebagainya. Nilai itu ideal bersifat ide, oleh sebab itu, nilai merupakan sesuatu yang abstrak dan tidak bisa disentuh oleh indra manusia. Yang bisa ditangkap ialah barang atau tingkah laku perbuatan yang mengandung sebuah nilai.

Daniel Fernandes dan Nursal Luth mengatakan bahwa nilai adalah perasaan-perasaan tentang apa yang diinginkan atau tidak diinginkan yang memengaruhi perilaku sosial dari orang yang memiliki nilai tersebut. Nilai bukan lah soal benar ataupun salah, tetapi soal dikehendaki atau tidak, disenangi atau tidak. Nilai merupakan kumpulan sikap dan perasaan-perasaan yang dapat selalu diperhatikan melalui perilaku oleh manusia.

Ciri-ciri Nilai

  1. Nilai-nilai yang mendarah daging (Internalized Value)
    Yaitu nilai yang telah menjadi kepribadian bawah sadar atau yang mendorong timbulnya tindakan tanpa berpikir lagi. Bila dilanggar maka akan timbul perasaan malu atau bersalah yang mendalam dan sulit untuk dilupakan, misalnya orang yang taat beragama akan menderita beban mental bila melanggar salah satu aturan yang ada dalam agamanya.
  2. Nilai yang dominan
    Nilai dominan sering dianggap lebih penting dibandingkan nilai-nilai lainnya. Hal ini terlihat pada pilihan yang dilakukan seseorang di waktu berhadapan dengan beberapa tindakan yang harus diambil. Beberapa pertimbangan dominan atau tidaknya nilai tersebut adalah sebagai berikut:
    • Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut.
    • Lamanya nilai tersebut dirasakan anggota kelompok tersebut.
    • Tingginya usaha untuk mempertahankan nilai itu.
    • Tingginya kedudukan (prestice) orang-orang yang membawakan nilai tersebut.

Macam-macam Nilai

Darmodihardjo, dkk menggolongkan nilai menjadi 5 pasangan, yaitu sebagai berikut.

1). Nilai obyektif dan nilai subyektif

Nilai obyektif merupakan nilai yang dilihat berdasarkan kondisi dari suatu objek. Sedangkan nilai subyektif merupakan nilai yang diberikan oleh seseorang (subjek).

2). Nilai positif dan nilai negatif

Nilai positif merupakan nilai yang bermanfaat bagi kepentingan manusia, baik ditinjau dari sudut kepentingan lahiriah atau batiniah. Contohnya seperti nilai kebaikan dan kesusilaan. Nilai negatif adalah lawan dari nilai positif, contohnya seperti nilai kejahatan, keburukan dan ketidaksusilaan.

3). Nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik

Nilai intrinsik merupakan nilai dari sesuatu yang mulanya memang sudah ada. Contohnya seperti nilai intrinsik pisau adalah jika pisau itu memiliki kualitas ketajaman. Sedangkan nilai ekstrinsik merupakan nilai yang bergantung kepada nilai intrinsik dari akibat-akibatnya.

4). Nilai transenden dan nilai imanen

Nilai transenden adalah nilai yang melewati batas-batas pengalaman serta pengetahuan manusia. Contohnya seperti nilai ketuhanan, sebagai nilai yang mengatasi pengalaman dan rasio manusia. Nilai imanen adalah nilai yang berhubungan dengan pengalaman serta pengetahuan manusia. Contohnya seperti melalui pengetahuan indrawi dan rasio manusia diperoleh rasa asin, manis, luas, sempit dan lain sebagainya.

5). Nilai dasar dan nilai instrumental

Nilai dasar merupakan nilai yang bersifat tetap dan tidak akan pernah berubah, dipilih sebagai landasan bagi nilai instrumental yang diwujudkan dalam kehidupan nyata. Nilai ini mencakup nilai obyektif, positif, intrinsik dan transenden. Sedangkan nilai instrumental merupakan nilai yang usaha konkretisasi berasal dari nilai dasar, umumnya dituangkan dalam bentuk norma dan dijadikan sebagai acuan dalam bersikap, contohnya yaitu Pancasila.

Pancasila Sebagai Sumber Nilai

Pancasila dalam kedudukannya sebagai sumber nilai, secara umum dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Pancasila memuat nilai-nilai luhur untuk dapat menjadi dasar negara Indonesia. Ada setidaknya 3 nilai yang terdapat dalam Pancasila:

  1. Nilai dasar adalah asas-asas yang berasal dari nilai budaya bangsa Indonesia yang bersifat abstrak dan sangat umum, relatif tidak berubah. Namun, maknanya selalu dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman. Artinya nilai dasar itu bisa terus menerus ditafsirkan ulang baik, makna maupun implikasinya. Melalui penafsiran ulang itu lah akan didapat nilai baru yang lebih operasional sesuai dengan tantangan zaman. Adapun nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila adalah Ketuhanan, Kemanusian, Persatuan, Kerakyatan (musyawarah- mufakat), dan keadilan.
  2. Nilai instrumental, yaitu penjabatan dari nilai dasar yang berbentuk norma sosial dan norma hukum. Seperti UUD 1945, Tap MPR, UU No. 40 tahun 1999 tentang PERS, UU No. 2 tahun 1999 tentang partai politik, UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM, dan lain sebagainya.
  3. Nilai praksis, adalah nilai dasar atau instrumental yang masih hidup di tengah masyarakat berbangsa dan bernegara. Contoh nilai praksis seperti saling menghormati, toleransi, kerja sama, kerukunan, gotong royong, menghargai, dan lain-lain.

Penutup

Nilai-nilai Pancasila itu merupakan nilai instrinsik yang kebenarannya dapat dibuktikan secara obyektif, serta mengandung kebenaran secara universal. Nilai-nilai Pancasila, merupakan kebenaran bagi bangsa Indonesia karena telah diuji dalam sejarah dan dipersepsi sebagai nilai-nilai subyektif yang menjadi sumber kekuatan dan pedoman hidup seirama dengan proses adanya bangsa Indonesia yang dipengaruhi oleh dimensi waktu dan ruang.

Nilai-nilai tersebut tampil sebagai norma dan moral kehidupan yang ditempa dan dimatangkan oleh pengalaman bangsa Indonesia untuk membentuk dirinya sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Nilai-nilai Pancasila itu menjadi sumber inspirasi dan cita-cita untuk diwujudkan dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat, berbangsa.

Nilai-nilai Pancasila termasuk ke dalam nilai kerohanian, tetapi nilai kerohanian yang mengakui pentingnya nilai material dan nilai vital secara seimbang (harmonis). Hal ini dapat dibuktikan dengan susunan sila-sila yang ada pada Pancasila tersusun secara sistematis-hirarki.

Posting Komentar untuk "Maksud dari Pancasila Sebagai Sumber Nilai"

Berlangganan via Email