Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pancasila Sebagai Sistem Filsafat


Bangsa Indonesia memiliki dasar negara yaitu Pancasila sejak kemerdekaan pertama kali diproklamasikan tahun 1945 silam. Tentu tidak hanya sebagai dasar negara yang mengatur kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, Pancasila pun hadir sebagai sistem filsafat. Pancasila sebagai sistem filsafat adalah keseluruhan unsur yang bersatu mencapai tujuan yang sama dengan saling terkait satu sama lain.





Sistem Filsafat





Filsafat memiliki pengertian usaha manusia menemukan kebijaksanaan hidup untuk membentuk peradaban. Termasuk hasil dari aktifitas berfikir oleh akal manusia yaitu apa yang dikenal dengan filsafat.





Filsafat adalah hasil pemikiran manusia untuk menjawab masalah yang muncul atau rahasia alam semesta. Sementara sistem filsafat yaitu serangkaian pandangan yang teratur dan mempunyai beberapa ciri tertentu yang tak sama dengan sistem lain.





Sebuah sistem fiIsafat mestilah menyeluruh daIam artian tak ada sesuatu pun di luar cakupannya. Bilamana tak memenuhi unsur tersebut tentu hanya akan melihat sebuah kenyataan dari satu sisi yang tak memadai. Sebuah sistem filsafat dianggap memadai jika meliputi suatu penjelasan dari seluruh gejala.





Pijakan Filosofis Pancasila





Pancasila menyediakan 3 pijakan filosofis terdiri dari landasan epistemologis, ontologis, dan juga aksiologis. Epistemologis artinya ilmu mengenai dasar pengetahuan.





Ontologis membahas esensi termendalam dan mendasar dari filsafat. Sementara Aksiologis membahas mengenai nilai-nilai. Pondasi ontologis Pancasila yaitu pandangan filosofis dari kelima sila untuk dijadikan sebagai dasar filosofi negara Indonesia.





Contohnya ketika membahas sila kelima Pancasila mengenai keadilan, otomatis harus dihubungkan dengan keempat sila yang lain yakni keadilan yang berketuhanan (Sila ke-1), keadilan yang berperikemanusiaan ( Sila ke-2), keadilan yang berkesatuan (Sila ke-3), dan keadilan yang demokratis (Sila ke-4).





Pancasila Sebagai Sistem Filsafat





Manusia adalah makhluk yang memiliki sifat dasar ingin menanyakan berbagai hal yang ditemuinya dimana ia belum paham. Jawaban dari pertanyaan itu bisa didapatkan dari berfikir yang dilakukannya atau ia menanyakan kepada orang lain.





Pertanyaan mengenai filsafat biasanya berhubungan dengan sesuatu yang mendalam yang berpijak ke hakikat sesuatu. Itu bisa mengenai Tuhan, alam raya dan juga pada diri manusia.





Jawaban dari pertanyaan filsafat akan melahirkan sebuah sistem pemikiran filsafat. Pemikiran filsafat lalu diwujudkan dalam pandangan filsafat.





Oleh karena itu pandangan filsafat seseorang adalah juga sebagai pandangan orang itu kepada Tuhan, alam semesta dan orang lain. Mengetahui pandangan filsafat orang lain maka bisa dilihat bagaimana ia berfikir, bersikap maupun bertindak.





Pancasila meliputi lima sila, dimana tiap-tiap sila menjelma sebagai ajaran filsafat yang terdiri dari : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.





Tiap sila dalam Pancasila tak bisa disendirikan dari kesatuan keseluruhannya. Pada intinya yang menjadi subyek atau pendukung dari sila-sila Pancasila yaitu masyarakat Indonesia sebagai manusia.





Manusia meliputi berbagai unsur mutlak dimana seluruh unsur tadi menempati dan melakukan fungsinya secara mutlak. Berarti tak bisa digantikan fungsinya dengan unsur lain.





Sementara pokok isi dari tiap-tiap sila Pancasila yaitu penjelmaan atau Implementasi yang selaras dengan semua unsur hakikat manusia. Dengan begitu tiap sila Pancasila mesti menduduki posisi dan melaksanakan fungsinya secara mutlak dalam susunan kesatuan Pancasila.





Pancasila akan selalu menjadi dasar berpijak saat seseorang berfikir tentang segala hal terkait Pencipta, alam dunia, dan juga keragaman sifat-sifat orang lain.


Posting Komentar untuk "Pancasila Sebagai Sistem Filsafat"