Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sosialisasi Kepribadian: Materi Lengkap

Sosialisasi Kepribadian

Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan orang lain untuk dapat hidup. Kita hidup dengan cara berbaur dan bersosialisasi baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Manusia membentuk kepribadian melalui sebuah proses, yaitu proses sosialisasi.

Contohnya seorang siswa di sekolah. Ia disekolahkan dan dididik di lingkungan sekolah dengan maksud dan tujuan agar siswa tersebut mempunyai kepribadian-kepribadian baik. Kepribadian yang baik tentunya seperti santun dalam bertutur kata, sopan dalam bertindak, sesuai perannya sebagai seorang pelajar.

Untuk mendalami lebih lanjut mengenai sosialisasi kepribadian, para artikel ini akan dijelaskan bagaimana sosialisasi dapat membentuk kepribadian seseorang.

Pengertian Sosialisasi

Sebelum masuk ke proses sosialisasi membentuk kepribadian, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan sosialisasi. Menurut KBBI, sosialisasi adalah suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya.

Sedangkan menurut Peter L. Berger sosialisasi adalah suatu proses seorang anak belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Paul B Horton menjelaskan sosialisasi adalah suatu proses di mana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya.

Vander Zande secara terang menjelaskan bahwa sosialisasi adalah proses interaksi sosial dimana kita mengenal cara-cara berpikir, berperasaan dan berperilaku sehingga dapat berperan serta secara efektif dalam masyarakat. Dan David A Goslin, berpendapat sosialisasi adalah proses belajar yang dialami seseorang untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan norma-norma agar ia dapat berpartisipasi sebagai anggota dalam kelompok masyarakatnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa melalui proses sosialisasi individu diharapkan dapat berperan sesuai dengan nilai yang berlaku dalam masyarakat di mana ia berada.

Tujuan Sosialisasi

Ada 4 tujuan sosialisasi yang mana tiap tujuan itu saling keterkaitan. Tujuan sosialisasi yaitu:

  1. Memberikan pengetahuan yang dibutuhkan seseorang untuk melangsungkan kehidupannya ditengah-tengah masyarakat.
  2. Mengembangkan kemampuan individu untuk berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuan untuk membaca, menulis, dan bercerita.
  3. Membantu individu dalam mengendalikan fungsi-fungsi organik melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
  4. Menanamkan pada diri seseorang tentang nilai-nilai kepercayaan kepada masyarakat.

Agen Sosialisasi

Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang membantu seorang individu menerima nilai-nilai atau tempat individu tersebut belajar dari segala sesuatu yang menjadikannya dewasa. Agen sosialisasi yang utama adalah keluarga, kelompok bermain, sekolah, lingkungan dan media massa.

Berikut penjelasan dari masing-masing agen sosialisasi.

1. Keluarga

Anak yang baru lahir mengalami proses sosialisasi pertama kali adalah di dalam keluarga. Dari sini lah pertama kali anak mengenal lingkungan sosial dan budayanya. Anak mulai mengenal seluruh anggota keluarganya, yakni ayah, ibu dan saudaranya sampai anak mengenal dirinya sendiri serta menaati norma-norma yang berlaku dalam keluarga.

Keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap proses sosialisasi manusia. Hal ini dimungkinkan karena keluarga memiliki berbagai kondisi :

  • Keluarga merupakan kelompok primer yang selalu bertatap muka di antara anggotanya. Di antara anggotanya dapat selalu mengikuti perkembangan anggota-anggota yang lain.
  • Orang tua mempunyai kondisi yang tinggi untuk mendidik anak-anaknya sehingga menimbulkan hubungan emosional yang sangat diperlukan dalam proses sosialisasi.
  • Adanya hubungan sosial yang tetap maka dengan sendirinya orang tua mempunyai peranan yang penting terhadap proses sosialisasi anak.

Corak hubungan orang tua dengan anak yang akan menentukan proses sosialisasi serta perkembangan kepribadiannya dapat dibedakan menjadi tiga pola, yaitu pola menerima-menolak, memakai-melepaskan, dan demokrasi-otokrasi.

a) Pola menerima-menolak

Pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam pola menolak akan cenderung bersikap menantang kekuasaan dan selalu curiga terhadap orang lain. Anak sudah tidak takut lagi terhadap hukuman karena sudah terlalu sering mendapat hukuman dari orang tuanya.

b) Pola memiliki-melepaskan

Pola ini didasarkan atas besarnya sikap protektif orang tua terhadap anak. Pola ini bergerak dari sikap orang tua yang over protektif sampai mengabaikan anaknya sama sekali. Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menganut pola memiliki-melepaskan, cenderung berwatak tidak patuh, tidak dapat menahan emosi, dan menuntut orang lain secara berlebihan, pemalu, cemas, dan ragu-ragu.

c) Pola demokrasi-otokrasi

Pola ini didasarkan atas tingkat partisipasi anak dalam menentukan kegiatan-kegiatan dalam keluarga. Pada pola otokrasi, orang tua bertindak sebagai diktator terhadap anak. Dalam pola demokrasi-otokrasi anak dapat berpartisipasi dalam keputusan-keputusan keluarga sampai batas-batas tertentu.

Dalam keluarga yang demokratis, anak akan berkembang lebih luwes dan dapat menerima kekuasaan secara rasional. Sebaliknya, dalam keluarga otokrasi, anak memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang harus diikuti sehingga anak akan tunduk secara membabi buta atau bahkan bersikap menantang.

2. Kelompok Bermain (peer group)

Kelompok bermain merupakan agen sosialisasi yang pengaruhnya besar dalam membentuk pola perilaku seseorang. Di dalam keluarga, interaksi yang dipelajari di rumah melibatkan hubungan yang tidak sederajat (hubungan dengan orang tua, kakek atau nenek, kakak, adik, paman dan bibi). Sementara itu, dalam kelompok bermain, seorang anak belajar berinteraksi dengan orang-orang sederajat atau sebaya.

Di dalam kelompok bermain, individu mempelajari norma, nilai, kultur, peran, dan semua persyaratan lainnya yang dibutuhkan individu untuk memungkinkan berpartisipasi yang efektif di dalam kelompok bermainnya. Dalam kelompok bermain pulalah seorang anak mulai belajar tentang nilai-nilai keadilan.

3. Sekolah

Agen sosialisasi yang berikutnya adalah sekolah. Sekolah merupakan agen sosialisasi di dalam sistem pendidikan formal. Di sekolah, seseorang mempelajari hal-hal baru yang belum dipelajarinya dalam keluarga ataupun kelompok bermain. Pendidikan formal di sekolah mempersiapkan anak agar dapat menguasi peranan-peranan baru yang dapat diterapkan apabila ia tidak lagi bergantung pada orang tua.

4. Lingkungan Kerja

Kelompok lingkungan kerja sangat beraneka ragam. Misalnya kelompok pekerja pabrik, kelompok pegawai kantor, kelompok petani dan kelompok pedagang. Setiap kelompok memiliki aturan-aturannya sendiri. Seseorang yang melanggar aturan dapat dikenai sebuah sanksi.

Melalui peraturan, seseorang mempelajari berbagai nilai dan norma yang harus dipatuhi untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya meningkatkan disiplin diri dan meningkatkan kerja sama dengan teman. Dalam hubungan sosial di lingkungan kerja, setiap orang harus menjalankan peranan sesuai dengan kedudukannya.

5. Media Massa

Media massa juga merupakan agen sosialisasi yang cukup berpengaruh terhadap perilaku masyarakat. Kehadiran media massa mempengaruhi sikap dan tidakan anggota masyarakat. Nilai dan norma yang disampaikan dan disajikan oleh media massa akan tertanam dalam diri seseorang melalui penghilatan ataupun pendengaran.

Informasi melalui media massa dapat bersifat positif atau negatif. Apabila informasi tersebut bersifat positif maka akan terbentuk kepribadian yang positif. Sebaliknya, jika informasi tersebut bersifat negatif maka akan terbentuk kepribadian yang negatif. Media massa sering digunakan untuk mengukur, membentuk dan mempengaruhi pendapat umum.

Pola-Pola Sosialisasi

Pada lingkungan keluarga terdapat dua macam pola sosialisasi, yaitu sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatif. Berikut penjelasannya.

1. Sosialisasi represif (repressive socialization)

Sosialisasi represif mengutamakan adanya ketaatan anak pada orang tua. Sosialisasi dengan pola ini menekankan penggunaan hukuman terhadap kesalahan yang dilakukan anak. Sosialisasi semacam ini menunjukkan adanya komunikasi yang sifatnya satu arah, yaitu terletak pada keinginan orang tua saja.

Ciri-ciri sosialisasi represif antara lain sebagai berikut:

  1. Menghukum perilaku yang keliru.
  2. Keluarga didominasi orang tua.
  3. Hukuman dan imbalan material.
  4. Anak memperhatikan keinginan orang tua.
  5. Kepatuhan anak.
  6. Sosialisasi berpusat pada orang tua.
  7. Komunikasi nonverbal.
  8. Komunikasi sebagai perintah.

2. Sosialisasi partisipatif/partisipatoris (participatory socialization)

Sosialisasi partisipatif mengutamakan adanya partisipasi dari anak memberikan apa yang diminta anak apabila anak berperilaku baik. Penekanannya pada interaksi anak yang menjadi pusat sosialisasi dan kebutuhannya. Komunikasi yang terjalin adalah komunikasi dua arah, sehingga terjalin pengertian antara orang tua dan anak.

Ciri sosialisasi partisipatif antara lain sebagai berikut:

  1. Memberikan imbalan bagi perilaku yang baik.
  2. Orang tua memperhatikan keinginan anak.
  3. Keluarga merupakan generalize other (kerja sama ke arah tujuan).
  4. Otonomi anak.
  5. Sosialisasi berpusat pada anak.
  6. Komunikasi sebagai interaksi.
  7. Komunikasi verbal.
  8. Hukuman dan imbalan simbolis.

Tahap-Tahap Sosialisasi

Menurut tahapannya sosialisasi dibagi menjadi dua tahap, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder.

1.  Sosialisasi Primer

Merupakan sosialisasi yang pertama dijalani oleh individu semasa kecil, dimana ia menjadi anggota masyarakat; dalam tahap ini proses sosialisasi primer membentuk kepribadian anak dan keluargalah yang berperan sebagai agen sosialisasi.

2. Sosialisasi Sekunder

Didefinisikan sebagai proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasi ke dalam sektor baru dari dunia objektif masyarakatnya; dalam tahap ini proses sosialisasi mengarah pada terwujudnya sikap profesionalisme; dan dalam hal ini yang menjadi agen sosialisasi adalah lembaga pendidikan, peer group, lembaga pekerjaan dan lingkungan yang lebih luas dari keluarga.

Sosialisasi bisa berlangsung secara tatap muka, tapi bisa juga dilakukan dalam jarak tertentu melalui sarana media, atau surat menyurat, bisa berlangsung secara formal maupun informal, baik sengaja maupun tidak sengaja. Sosialisasi dapat dilakukan demi kepentingan orang yang disosialisasikan ataupun orang yang melakukan sosialisasi, sehingga kedua kepentingan tersebut bisa sepadan ataupun bertentangan.

Dalam masyarakat yang homogen, proses sosialisasi bisa berjalan dengan serasi menurut pola yang sama, karena nilai-nilai yang ditransmisikan dalam proses sosialisasi sama. Namun dalam masyarakat yang heterogen di mana terdapat banyak kelompok dengan nilai-nilai yang tidak sepadan dalam mempengaruhi individu, maka proses sosialisasi tidak berlangsung seperti dalam masyarakat yang homogen.

Sama seperti dalam kelompok primer, agen sosialisasi hanya terbatas pada anggota keluarga, sedang pada sosialisasi sekunder terdapat banyak agen sosialisasi diluar keluarga yang menanamkan nilai-nilai yang berbeda dengan nilai yang ada dalam keluarga, bahkan kadang-kadang bertetangan. Dalam situasi demikian, seseorang dapat mengalami proses yang disebut desosialisasi, yaitu proses “pencabutan” diri yang dimiliki seseorang, yang kemudian disusul dengan resosialisasi, dimana seseorang diberikan suatu diri yang baru yang tidak saja berbeda tetapi juga tidak sepadan.

Bentuk sosialisasi sekunder lainnya adalah anticipatory socialization merupakan persiapan seseorang untuk peranan yang baru. Sosialisasi antisipatoris ini mendahului perubahan status dari suatu kelompok ke kelompok lain, atau dari suatu jenjang pendidikan/pekerjaan ke jenjang yang lebih tinggi. Sosialisasi antisipatoris ini juga dialami ketika seseorang yang baru lulus sarjana akan memasuki dunia kerja dan sebagainya.

Sosialisasi Sebagai Suatu Proses

Untuk menjadi masyarakat yang “normal” atau diterima di dalam masyarakat, diperlukan kemampuan untuk menilai secara objektif perilaku kita sendiri dari sudut pandang orang lain. Kalau sudah memperoleh kemampuan tersebut berarti seseorang memiliki apa yang dinamakan “self” (diri).

Self” terbentuk dan berkembang melalui proses sosialisasi, dengan cara berinteraksi dengan orang lain. Ciri orang yang sudah mempunyai “self” adalah orang yang sudah mampu merefleksikan atau memberlakukan dirinya sebagai objek dan subjek sekaligus. Bagaimana mungkin hal ini terjadi?

Dalam penjelasannya, Charles Horton Cooley memperkenalkan konsep “looking glass self”, dimana senantiasa dalam benak individu terjadi suatu proses yang ditandai oleh 3 tahap terpisah, yaitu:

  1. Persepsi, dalam tahap ini kita membayangkan bagaimana orang melihat kita;
  2. Interpretasi dan definisi, disini kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita;
  3. Respons, berdasarkan persepsi dan interpretasi individu tersebut menyusun respons

Berbeda dengan Cooley, George Herbert Mead berpendapat bahwa orang yang sudah memiliki “self” dijumpai pada penguasaan bahasanya, yakni pada anak-anak yang sudah berusia lima tahun. Kemampuan untuk menganggap diri sebagai objek dan subjek secara sekaligus ini diperoleh dalam tiga tahap berikut:

1) Preparatory Stage (Tahap Persiapan)

Tahap ini merupakan tahap persiapan seorang anak untuk memperoleh pemahaman tentang dirinya. Seorang anak akan melakukan kegiatan meniru secara tidak sempurna. Orang-orang di lingkungan keluarga si anak sangat berperan dalam proses peniruan yang belum sempurna.

2) Play stage (Tahap Meniru)

Dalam tahap ini anak mengembangkan kemampuannya untuk melihat diri sendiri. Kegiatannya tidak konsisten, tidak terorganisasir, peranan berganti-ganti, karena belum ada konsepsi yang terpadu mengenai dirinya.

Pada tahap meniru, seorang anak mulai belajar mengambil peranan orang-orang yang berada di sekitarnya. Ia mulai menirukan peranan yang dijalankan oleh orang tuanya atau orang dewasa lain yang sering berinteraksi dengannya. Misalnya, anak mulai dapat bermain masak-masakan bersama beberapa orang teman atau dengan bonekanya.

3) Game stage (Tahap Siap Bertindak)

Berbeda dengan play stage, di sini ada himpunan yang terorganisir. Anak harus sudah mengetahui posisinya dalam konteks yang lebih luas dan memberikan tanggapan terhadap harapan-harapan orang lain; individu sudah mampu menghubungkan dirinya dengan komunitas di mana ia menjadi anggotanya.

Pada tahap ini seorang anak tidak hanya mengetahui peranan yang harus dijalankannya. Akan tetapi, ia telah mengetahui peranan yang harus dijalankan oleh orang lain. Dalam kondisi ini, kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat.

4) Generalized other (Tahap Penerimaan Norma Kolektif)

Yaitu kemampuan anak untuk mengabstraksikan peran-peran dan sikap-sikap dari significant othernya serta menggeneralisasikannya untuk semua orang, termasuk dirinya. Tahap ini menunjukkan bahwa seorang anak telah mampu mengambil peran semua pihak yang terlibat dalam proses sosialisasi. Ia telah mampu berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat karena telah memahami perannya sendiri serta peran orang lain dalam suatu interaksi.

Pengertian Kepribadian

Roucek dan Warren menjelaska kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku seoang individu. Sedangkan Theodore R Newcomb memaparka  bahwa kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.

Yinger berpendapat kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan sistem kecendrungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. Menurut Cuber kepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang.

Susunan kepribadian

a. Pengetahuan

Terisi dengan fantasi, pemahaman dan konsep yang lahir dari pengamatan dan pengalaman menganai bermacam-macam hal.

b. Perasaan

Suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang menghasilkan penilaian positif atau negatif terhadap sesuatu dan bersifat subjektif.

c. Dorongan naluri

Merupakan kemauan yang sudah meruapakan naluri pada setiap manusia. Diantaranya:

  • Dorongan untuk mempertahankan hidup
  • Dorongan seksual
  • Dorongan untuk mencari makan
  • Dorongan untuk bergaul dan berinteraksi
  • Dorongan untuk meniru tingkah laku sesama
  • Dorongan untuk berbakti
  • Dorongan akan keindahan bentuk, warna, suara dan gerak

Faktor-faktor Pembentuk Kepribadian

Menurut F.G Robbins, ada lima faktor yang menjadi dasar kepribadian, yaitu sifat dasar, lingkungan prenatal, perbedaan individual, lingkungan dan motivasi.

a. Sifat dasar

Sifat dasar merupakan keseluruhan potensi yang diwarisi seseorang dari ayah dan ibunya. Faktor keturunan adalah faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (ascribed) dan merupakan transmisi unsur-unsur dari orang tuanya melalui proses genetika; jadi sudah ada sejak awal kehidupan. Misalnya jenis kelamin, suku bangsa, warna kulit. Delgado menganalogikan faktor keturunan ini dengan istilah “blue print” (cetak biru) sebuah bangunan

b. Lingkungan prenatal

Lingkungan prenatal adalah lingkungan dalam kandungan ibu. Pada periode prenatal ini individu mendapatkan pengaruh-pengaruh tidak langsung dari ibu.

c. Perbedaan individu

Sejak dilahirkan oleh ibunya, anak akan tumbuh dan berkembang sebagai individu yang unik, serta berbeda dengan individu lainnya. Perbedaan individu tersebut meliputi perbedaan ciri-ciri fisik seperti warna kulit, warna mata, rambut, bentuk badan, personal dan sosial.

d. Lingkungan

Situasi lingkungan yang mempengaruhi proses sosialisasi dapat dibedakan atas lingkungan alam, lingkungan kebudayaan, serta lingkungan sosial.

  1. Lingkungan alam meliputi keadaan iklim, tanah, flora, fauna, dan sumber daya di sekitar individu.
  2. Lingkungan kebudayaan meliputi cara hidup masyarakat tempat individu itu hidup.
  3. Lingkungan sosial adalah pengaruh manusia lain dan masyarakat disekitarnya dan dapat membatasi proses sosialisasi serta memberi stimulasi terhadap perkembangannya.

e. Motivasi

Motivasi adalah kekuatan-kekuatan dari dalam individu yang menggerakkannya untuk berbuat sesuatu. Motivasi dibedakan menjadi dua, yakni dorongan dan kebutuhan.

  1. Dorongan adalah keadaan tidak seimbang dalam diri individu karena pengaruh dari dalam dan luar dirinya.
  2. Kebutuhan adalah dorongan yang telah ditentukan secara personal, sosial dan kultural

Posting Komentar untuk "Sosialisasi Kepribadian: Materi Lengkap"